Sabtu, 02 Oktober 2010

Naskah Drama - Let's Dance

SCENE 1
Jessy Raiston, Neelam Yeeram dan Lara Dita sederet nama yang paling dikenal di salah satu kampus swasta yang cukup ternama di kota yang sibuk itu. Hal yang membuat mereka popular yaitu “dance”. Berhubung di masa yang sedang menggilanya dunia entertainment, maka di kampus ini pun heboh akan sebangsanya, salah satunya “dance”. Mereka satu tempat tinggal tapi mereka berbeda fakultas. Satu hal yang unik dari mereka, mereka dari berbagai keturunan negara. (ditampilkan dengan durasi yang sekilas dan diiringi musik)

SCENE 2
Di dalam rumah mungil nan asri yang di kelilingi taman dan tak jauh dari kampus mereka.
Neelam             : “Huwaaah..”
(sambil menguap, belum lama bangun tidur).
“Oiy!! Buruan.. aku udah telat, mana jam segini aku belum mandi, haduuuh..”
(sambil garuk-garuk kepala).
Jessy                : “Mmm. .Sebentar, aku lagi sikat gigi nih”
(terdengar suara dari kamar mandi,dengan suara mulut penuh busa pasta gigi).
Neelam           : “Aku hitung sampai tiga yah?! kalau masih belum keluar, aku dobrak pintunya.”
(dengan suara agak tinggi dan siap-siap mendobrak pintu).
“Satu.. dua… ti…..”
(mendorong pintu).
Jessy                : “Iya.. iya.. huuuh”
(sambil membuka pintu).
“Mandi aja belum.. buru-buru amat sih, bukannya jam kelas  kita sama?”
(sambil keluar dan membenahi posisi handuk di badannya).
Neelam segera masuk ke kamar mandi, Jessy menuju ruang makan dan duduk di kursi makan sambil menyantap roti dan  meminum segelas jus buah yang sudah terhidang.
Neelam           : “Iya aku tahu, tapi kan hari ini aku mau ketemuan sama pelatih dance itu”
(sautnya dari dalam kamar mandi tak terlalu jelas karena kucuran air shower).
Jessy                : “Ketemuan sama siapa?!”
(tanyanya sambil tetap mengunyah roti tadi).
Lara                 : “Pelatih dancing, Jes!”
(celetuknya tiba-tiba, keluar dari arah dapur).
Jessy                : “Oh, serius kita mau ngadep dia?”
(berucap terkejut ke arah Lara, setelah meneguk jus buah dan menelannya).
Lara                 : “Jadi, harus jadi..”
(sambil membuat roti untuk dihidangkan kembali, karena roti yang sengaja  disiapkan untuk sarapan bersama itu telah habis di makan Jessy.)
“Kita kan sudah dapat juara dipertandingan antar kampus, ya kita tagih hadiahnya..”
(selesai menyiapkan roti, lalu duduk di kursi makan berhadapan dengan Jessy).
Jessy                : “Hmm.. jadi kalau kita bisa lolos tahap ini, kita bisa dong menjadi bintang di Hollywood..!!”
(dengan suara memuncak sambil memandang Lara).
“Yeeeah… asik..asik..asik.. jadi bintang Hollywood.. Hollywood.. Bisa ketemu Tom Cruse.., Paris Hilton.., Robie Williams..”
(sambil berjoget, menari dan bergaya bagai bintang besar).
Neelam           : “Heh ..kenapa ni bule?!”
(keluar kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya).
Jessy                : “Jadi yah.. kita terima tawaran pelatih dance itu?!”
(menghampiri Neelam dan mengoyak-oyakkan badan Neelam).
Neelam           : Iya.. tapibelum tentu juga”
(melepas tangan Jessy lalu menuju kamar, menutup pintu dan berpakaian).
Jessy                : “Tapi benar kan.. kalau kita lolos tahap terakhir ini.. waaah, kesampean juga aku jadi bintang di negeri asal mbah moyang aku..hahahaha”
(berbicara menghadap pintu yang tertutup).
Lara                 : “Halah.. udah kamu mandi sana, setelah mandi bantuin aku beresin dapur, berantakan banget tuh..”
(sambil bangun dari kursi dan menuju ke dapur).
Jessy                : “Oiya mandi..”
(sambil memperbaiki posisi handuknya).
“Eh, tadi apa?! Bantuin benahi dapur??? .. enggak lah yaw.. aku mau ikut Neelam ketemu pelatih dancing itu! Ho.ho.ho..”
(teriak dengan kepala keluar dari balik pintu kamar mandi).
Lara                 : “Dasar..”
(suara pelan sambil membenahi dapur sendiri).

SCENE 3
Neelam dan Jessy berangkat menuju kampus dengan berjalan kaki karena tidak jauh dari rumah yang mereka sewakan bersama itu. Kemudian diikuti Lara yang hanya berselang 15 menit dengan mereka. (ditampilkan dengan durasi yang sekilas dan diiringi musik)

SCENE 4
Di kampus, di lorong gedung, depan pintu ruang khusus latihan mereka dancing, Lara menghampiri Jessy yang sedang menyandar tembok samping pintu masuk dengan menghadap ke sebrang tembok yang berhias lukisan Taj Mahal.
Lara                 : “Jess..”
(sambil menepuk bahu Jessy).
Jessy                : “Eh.. hmm”
(menoleh ke arah Lara dan tak lama menatap kembali lukisan Taj Mahal itu).
Lara                 : “Sudah? Mana Neelam?”
(menengok ke arah pintu masuk samping Jessy yang terbuka sedikit).
Jessy                : (hanya diam, sambil menggaruk-garuk dagunya dengan pulpen).
Lara                 : “Hey.. liat apa sih serius banget?!”
(melihat mata Jessy dan mengikuti pandangannya ke arah lukisan itu).
“Hmm.. Taj Mahal, kenapa? Mau ke sana yah?”
(sambil mengambil pulpen yang Jessy pegang itu).
Jessy                : “Haduh..”
(terkejut, dan langsung memandang Lara)
“Iiih…ya enggak lah, aku kan maunya ke Hollywood, truuuus aku bisa jadi…”
(terhenti mengetahui Neelam keluar dari dalam).
Neelam           : “Eh kalian udah di sini,…”
(muncul dari dalam).
Jessy                : “Eh.. ”
(menoleh kea rah Neelam)
Lara                 : (tersenyum)
Neelam           : “Iya udah, sekalian aja.. Pelatihnya mau lihat perfom kita lagi, untuk pastikan kita udah siap belum ditampilkan di kedutaan dan melewati tahap seleksi seluruh kota”
(sambil membawa tas yang dipegang Jessy).
Jessy                :  “Sekarang?! Perfom yang kemaren aja kan?!”
(sambil masuk ke dalam ruangan bersama Neelam dan Lara).

SCENE 5
Neelam           : Iya, enggak lupa kan?!”
(menuju ruang ganti bersama).
Jessy                : “Ho’oh.. Siap!”
(mengangguk dan bergegas bersama).

SCENE 6
Tak lama mereka tampil di atas panggung pentas seleksi kemarin, yang mana panggung itu pun tempat biasa mereka latihan saat akan perlombaan atau pentas acara kampus. “Dance” mereka memukaukan orang di dalamnya, terutama para pelatih dan sebagian orang penting penyeleksi di kedutaan nanti. (ditampilkan dengan durasi yang sekilas dan diiringi musik)

SCENE 7
Selesai mereka perform, di depan pintu ruangan itu, Jessy, Neelam dan Lara menunggu Pelatih dance itu datang. Hanya menunggu lima menit, munculah Harul Fasrul, salah satu pelatih yang mengundang mereka itu langsung menghampiri mereka yang sedang asik memandang lukisan Taj Mahal tadi.
Harul               : “Maaf..”
(pelan dan lembut)
Jessy                : “Eh..”
(menoleh, begitu juga Neelam dan Lara).
Neelam           : “Iya, bagaimana?”
(mengarah ke Harul)
Lara                 : (senyum memandang Harul)
Harul               : “Baiklah, tiga hari lagi kita bertemu di kedutaan,  persiapkan perfom kalian. Pukul Sembilan pagi kita bertemu kembali di sini”
(senyum, menatap ketiganya; Jessy,Neelam dan Lara).
Lara                 :  (tersenyum)
Jessy                : “Siap..”
(menoleh arah Neelam dan Lara)
Neelam           : ”Iya, baik Rul..”
(tersenyum lebar).
Harul               : “Okeh, Jangan sampai sia-sia kan yah kesempatan emas ini, kalau kalian terpilih dan jadi main di Bollywood, aku bisa sekalian mengikutsertakan naskah drama ku ini ke paman ku di sana..”
(tersenyum).
Jessy                : “Eh..?”
(menatap tegas Harul dan menoleh ke arah Neelam dan Lara).
“Tadi itu apa.. itu.. eee.. apa?”
(menoleh lagi ke arah Neelam dan Lara).
Neelam           : “mmm.. sampai jumpa Rul”
`                         (sambil menarik tangan Jessy dan Lara, langsung bergegas meninggalkan Harul).

SCENE 8
Kembali di rumah mungil itu, kali ini mereka kumpul bersama di kamar tidur Lara yang nyaman dan bertata rapih serta bersih, malam hari.
Jessy                   : “….tapi aku kan enggak suka dan aku hanya ingin ke Hollywood.. JADI BINTANG HOLLYWOOD..”
(melempar bantal boneka ke kasur).
Neelam              : “Jessy sayang.. tapi memang begitulah keadaannya, kalau kita lolos di kedutaan nanti, ya kita berangkatlah ke Bollywood..”
(sambil mencoba memasangkan stelan baju yang dia pilih untuk perfom di kedutaan nanti).
“…kalau yang ini bagus kan, Ra?”
(memperlihatkan baju ke Lara yang sedang duduk di tempat tidurnya dan membaca majalah fashion).
Lara                    : “Boleh”
(tersenyum).
Jessy                   : “Hmmm… tapi kan..”
(cemberut dan duduk dekat Lara)
Neelam              : “Kalau masih mikirin gengsi gitu, kita enggak akan maju-maju.. memang kenapa kalau Bollywood?? Takut dicengin?! Atau takut norak?! Lagi pula kita juga belum tentu terpilih kan….???”
(sambil membenahi pakaiannya dan dimasukkan kembali ke dalam lemari).
Hening sejenak…
Lara                    :  “Neelam benar, enggak akan, Jess… percaya deh kamu akan tahu hasilnya”
(menoleh ke arah Jessy dan senyum).
Malam itu memang jadi malam perdebatan yang menyebalkan, sampai terlelap tidur pun Jessy dan Neelam tetap saling berdebat. (ditampilkan dengan durasi yang sekilas dan diiringi musik)

SCENE 9
Keesokan harinya mereka pergunakan untuk latihan seharian. Akhirnya Jessy secara perlahan mau melanjutkan seleksi dance di kedutaan, dia hanya bertekad melanjutkan tahap seleksi dance ke tingkat lebih nasional saja. (ditampilkan dengan durasi yang sekilas dan diiringi musik)

SCENE 10
Pemilihan dance berbakat yang akan dikirim ke Bollywood untuk menjadi pemeran utama dalam film baru dari sutradara dan produser antar dua negara ini, ternyata telah mereka raih. Semua juri kedutaan serta perwakilan dari Bollywood itu sendiri terpukau atas perfom Jessy, Neelam dan Lara. Mereka memang dancer yang bertalenta. Dance modern yang mereka padu dengan tarian citra khas timur yang tetap meraka terapkan, membuat penilaian dance mereka di atas finalis-finalis baik dari sanggar atau kampus-kampus. (ditampilkan dengan durasi yang sekilas dan diiringi musik)
Masih dekat panggung, di ruang perfom, Kedutaan.
Harul              : “Selamat yah, keyakinanku benar kan?! Kalian memang hebat, kalian itu unik sekali, dance yang spektakuler.. dan personil yang punya karakter khas tersendiri”
(memberikan surat keterangan untuk dibawa saat berangkat ke Bollywood kepada Lara).
“Aku salut…”
(tersenyum)
Lara               : (tersenyum kembali)
“…terimakasih”


SCENE 11
Hari yang ditunggu pun tiba, di rumah mungil yang mereka sayangi itu, tapi sedikit terjadi kegaduhan.
Neelam          : “Lara…. Lara…”
(lari menuju kamar Lara dan langsung membuka pintu).
Lara               : “Ada apa?”
(terkejut dan langsung menutup pintu lemari yang sedang dia benahi).
Neelam          : “Jessy…”
(terengah-engah, duduk lemas di tempat tidur Lara).
Lara               : “Kenapa Jessy?”
(menghampiri Neelam).
Neelam          : “Hidungnya… hidungnya”
(lemas)
Lara               : Keluar darah lagi? …Oh God… kenapa harus sekarang?”
(duduk lemas disamping Neelam).

SCENE 12
Keluarnya darah dari hidung menandakan penyakit lamanya Jessy kambuh, dia akan koma, paling cepat seminggu dia akan sadar. Neelam dan Lara pasrah. Jessy segera dibawa ke rumah sakit terdekat, dan Jessy langsung ditangani pihak rumah sakit.
Sudah lama Jessy menderita penyakit ini, memang tidak sering, tidak juga jarang, secara tiba-tiba penyakit ini timbul dan pihak kedokteran pun belum tahu apa penyebabnya. (ditampilkan dengan durasi yang sekilas dan diiringi musik)

SCENE 13
Tilulilulilulit… tilulilulilulit… handphone Lara berbunyi, memecahkan hening ruang ICU.
Lara               : ”Hallo..?”
(suara pelan, sambil menuju keluar ruangan ICU).
Harul              : “Lara..kamu baik-baik saja kan? Neelam juga di sana?”
(terdengar suara dari handphone Lara).

SCENE 14
Lara               : “Iya, Rul.. kami di sini baik, tapi Jessy..”
(menuju ruang tunggu dan duduk di kursi panjang itu).
Harul              : “Saya sudah dengar semua dari teman kalian saat aku menuju rumah kalian, tidak usah terlalu difikirkan masalah ke New Delhi saat ini, yang penting Jessy pulih kembali”
(terdengar suara dari handphone Lara).
Lara               : “Iya, terimakasih..”
(masih duduk di kursi sambil melihat jam dinding di depannya yang tepat pukul sepuluh malam).
Harul              : “Baiklah, lima belas menit aku sampai di sana, kalian di mana?”
(terdengar suara dari handphone Lara).
Lara               : “Oh, iya..mmm, Jessy di rawat di ruang ICU, kami pun di sini”
Harul              : “Baiklah, sampai jumpa ya..”
(langsung menutup telponnya).
Sesuai janjinya lima belas menit, Harul datang sendirian dengan membawa sedikit makanan untuk Neelam dan Lara serta seikat bunga tulip kuning yang indah untuk Jessy. Harul memang sangat perhatian kepada ketiga sahabat ini. Sampai mereka tak tahu Harul menyimpan hati untuk siapa. (ditampilkan dengan durasi yang sekilas dan diiringi musik)
Di Ruang tunggu ICU, rumah sakit yang tak jauh dari rumah Jessy, Neelam dan Lara.
Harul              : “Kalian.. di sini rupanya”
(menghampiri Neelam dan Lara di ruang tunggu tak jauh dari ruang ICU)
Neelam          : “Harul, maafkan kami, pasti pihak kedutaan sudah tahu ya?”
(berdiri dari duduknya, mengarah ke Harul).
Harul              : (senyum).
Neelam          : “Pasti kita langung digantikan yah?! Pasti dari sanggar itu yah? Pasti..”
(menatap Harul tajam).
Lara               : Neelam.. Jessy masih di dalam.. kasian…”
(berdiri dan menggoyangkan lengan Neelam).
Harul              : “Duduk dulu yuk..”
(duduk sambil menarik tangan Neelam lembut).
“Bagaimana keadaan Jessy sekarang?”
(ke arah Lara yang duduk setelah Neelam).
Lara               : “Belum sadar..”
(menoleh ke pintu ICU yang sedikit berkaca).

SCENE 15
Hampir semalaman mereka; Harul, Neelam dan Lara tidak tidur.  Semalaman mereka habiskan waktu di ruang tunggu itu. Menjelang fajar mereka pun terlelap tidur, tiba, tiba-tiba suster datang dan membangunkan salah satu dari mereka, Lara. (ditampilkan dengan durasi yang sekilas dan diiringi musik)
Suster             : “Maaf.. Anda siapanya Jessy yah?”
(sedikit menggoyangkan lengan Lara sedang tertidur pulas di kursi tunggu bersama Neelam dan Harul dengan posisi yang sama semalaman).
Lara                 : “Eh iya, saya teman-nya, bagaimana?”
(sambil membenarkan posisi duduk dan merapihkan rambutnya yang agak berantakan).
Suster              : “Mari, masuk…”
(mengantar masuk ke dalam ruangan ICU itu).

SCENE 16
Sampai di dalam terlihat Jessy sedang duduk di kasur pasien dan tersenyum mengarah Lara. Dengan tangan yang masih terpasang infusan diangkatnya karena ingin meraih tangan Lara. Mereka pun saling berpelukan dan sedikit mengeluarkan sedu. (ditampilkan dengan durasi yang sekilas dan diiringi musik)

SCENE 17
Krekeeet…. (bunyi pintu terbuka oleh suster yang keluar dari dalam ruang ICU). Harul terbangun kemudian langsung membangunkan Neelam karena tahu Lara tidak ada.
Suster memberitahukan bahwa Jessy telah siuman. Tak lama Lara keluar dari dalam, Neelam pun langung masuk dan menemui Jessy. Ternyata Jessy telah pulih kembali, seperti halnya tidak terjadi apa-apa, Jessy riang seperti biasa. (ditampilkan dengan durasi yang sekilas dan diiringi musik)

SCENE 18
Di dalam ruang ICU.
Harul               : “Ini buat kamu, Jess..”
(memberikan bunga tulipnya).
Jessy                : (menerimanya dengan senyum dan menyimpannya disamping badannya).
Neelam           : (senyum bahagia, duduk disamping dan melihat Jessy).
Lara                 : (senyum bahagia menghadap Jessy yang berdiri disamping Harul).

SCENE 19
Suasana yang mengharukan untuk semua di pagi yang indah itu. Biaya administrasi telah diurus langsung oleh pihak perusahaan ayah Jessy. Keluarga Jessy tinggal di negeri Paman Sam, ayahnya pemegang perusahan ternama di dunia, ayah-ibunya sangat sibuk, hanya lewat telepon mereka berkomunikasi. Saat Jessy pulih, kedua orangtuanya langsung menghubungi Jessy, dengan menggunakan video call. (ditampilkan dengan durasi yang sekilas dan diiringi musik)

SCENE 20
Keesokan di ruang makan, di rumah mungil itu.
Jessy                : “hmmm…”
(memutar-mutarkan jari di mulut gelas yang berisi jus buah itu)
Harul               : “Pagi…”
(muncul dari balik pintu depan rumah yang terlihat dari ruang makan).
Neelam           : (menoleh ke arah suara).
Harul               : “Mengganggu??”
(sambil menuju masuk).
Neelam           : “Ah, tidak..”
(menghampiri dari meja makan).
“Masuk, ada apa ini? Pagi-pagi sudah ke sini.”
(menyuruh Harul duduk di kursi tamu yang mungil itu).
Lara                 : “Harul..? Harusnya kan kamu berangkat ke …”
(keluar dari dapur dan langsung menuju ruang tamu).
Harul               : “Lah.. orang akrtisnya juga di sini kok…”
(yang hampir duduk, berdiri kembali).
Jessy                : “Maksudnya?”
(beranjak dari kursi makan itu).
Harul               : “Iya, kan kalian aktris-aktrisnya.. aku ke sini mau bawa kalian, karena sore ini kita berangkat ke Hollywood..”
(sambil mnyerahkan tiket pesawat kepada Neelam yang tak jauh darinya).
Jessy                : “Hollywood….????”
(tertegun, mendekati Harul)
Harul               : “Eh ya ampun.. Bollywood, salah maaf.. maaf.., nanti kamu keluar darah lagi hidungnya, heee..”
(menepuk lengan Jessy)
Neelam           : (tertawa)
”…..ya Bollywood dong kan mau main film bareng sama Sharuh Khan, acha-acha.. mere-mere.. aha-aha hahaha..”

Seisi rumah menjadi riang gembira.  Jessy, Neelam dan Lara pun berpelukan.

SCENE 21
Pukul tiga sore mereka berempat berangkat menyusul kedutaan yang lebih awal ke New Delhi. Mereka sampai di sana dengan selamat dan disambut oleh adat Hindustani yang khas.  Film pertama mereka diputar di New Delhi. Bakat acting Jessy, Neelam dan Lara pun sebanding dengan bakat dance-nya, naskah yang dibuat Harul pun tak kalah tambah menariknya film perdana yang diluncurkan oleh sutradara dan produser dua negara ini. (ditampilkan dengan durasi yang sekilas dan diiringi musik)
PENOKOHAN
Peran Utama (Protagonis)
  • Jessy Raiston         :   -   Mahasiswi cantik bidang Art Internasional
-   Berbadan modis dengan tinggi standar dan rupa keturunan Barat
-       Style modern dan casual
-       Perwatakan; riang dan agak selebor
  • Neelam Yeeram    :  – Mahasiswi manis bidang Art
-    Berbadan imut dengan tinggi standar dan rupa keturunan Hidustani
-    Style casual dan kadang ke-Hindustani-an
-    Perwatakan; riang,sedikit lebih dewasa dari Jessy
  • Lara Dita               : – Mahasiswi manis bidang Sastra
-    Berbadan standar dan rupa Asia
-    Style casual-formal
-    Perwatakan; lebih banyak diam, ramah dan dewasa
  • Harul Fasrul          : –  Mahasiswa tampan semester akhir bidang Sastra
-       Berbadan standar lelaki dengan tinggi dan rupa keturunan Barat-Hindustani
-       Style standar casual-formal
-       Perwatakan; ramah, perhatian dan sedikit dewasa
Peran Pembantu (Figuran)
  • Suster                 : – Standar wanita muda dan rupa keturunan Asia.

LOKASI SETTING DAN WAKTU
SCENE 1           : View Kampus dengan kebiasaan rutin kegiatan Jessy, Neelam, dan Lara.
SCENE 2           : View rumah asri, di ruang makan-dapur dengan terlihat rutinitas di pagi hari.
SCENE 3           :View sekitar rumah menuju kampus dan suasana sekitar kampus di pagi hari.
SCENE 4           :View lorong gedung, sepi, hanya terdengar suara langkah kaki yang jauh.
SCENE 5           : View  ruang ganti, yang masih sepi.
SCENE 6           : View panggung latihan menghadap kursi-kursi penonton, fokus ke perfom.
SCENE 7           : View lorong gedung kembali, tapi mulai hilir mudik orang lewat.
SCENE 8           : View dalam kamar yang nyaman dan tertata rapih, malam hari.
SCENE 9           : View latihan di panggung dan di rumah, prepare di rumah dan di kampus.
SCENE 10         : View gedung kedutaan, saat pentas, meriah, ramai dan megah, malam hari.
SCENE 11         : View rutinitas di rumah, pagi hari.  Ruangan menuju kamar Lara.
SCENE 12         : View di luar rumah menuju taksi dan berangkat ke rumah sakit, pagi hari.
SCENE 13         : View ruang ICU yang sepi-sunyi, terdengar bunyi nadi dari alat, malam hari.
SCENE 14         : View ruang tunggu yang sunyi, terdengar gemericik air hujan, malam hari.
SCENE 15         : View ruang tunggu, waktu fajar datang.
SCENE 16         : View ruang ICU, masih waktu fajar.
SCENE 17         : View luar ruangan ICU dan ruang tunggu, waktu masih fajar.
SCENE 18         : View ruang ICU, menjelang pagi hari.
SCENE 19         : View rumah sakit, rutinitas rumah sakit, pagi hari.
SCENE 20         : View di ruang makan – ruang tamu – rumah, pagi hari.
SCENE 21         : View bandara, dalam pesawat, dan suasana Hindustan-Bollywood, sekilas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar